jump to navigation

Prinsip-Prinsip Dalam Mendalami Islam December 5, 2008

Posted by pakwandi in Muhammad Ihsan Zainuddin.
Tags:
trackback

BerIslam saja tidak cukup. Siapapun yang memiliki perhatian terhadap Islam di zaman ini tentu akan sedikit banyak cukup disejukkan hatinya dengan pemandangan yang menunjukkan semakin maraknya kaum muda yang kembali ke naungan cahaya hidayah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Betapa tidak, setelah sekian lama bahkan hingga kinipun maum muslimin tenggelam dalam kelalaian yang berkepanjangan terhadap misi dan kepribadian mereka yang sejati, baru kali inilah terjadi sebuah “Booming” kesadaran yang dapat di katakana merata hampir ke seluruh pelosok negri bahkan penjuru dunia. Hingga seperti kata sebagian orang banyak perguruan-perguruan tinggi terkemuka di berbagai tempat, berubah menjadi “pondok-pondok pesantren” yang sering kali lebih religius dan lebih terasa kekuatan da’wahnya dibanding sejumlah pondok pesantren yang memang didirikan dengan nama pondok pesantren.
Kitapun mencium aroma semangat berIslam yang begitu semerbak dari para pemuda dan pemudi itu. Semangat yang membara ditambah perasaan yang tersimpan dalam jiwa-jiwa bersih mereka mengapa baru sekarang belajar Islam ? membuat mereka “berburu” Islam dari sumber manapun yang mereka anggap paling mengetahui Ad Dien ini. Hanya saja “perburuan” itu sering sekali salah jalan dan tersesat. Saringkali semangat mereka yang tulus itu berakhir pada kesesatan pemahaman atau setidak-tidaknya kesalah pahaman terhadap Islam. Ingt ! Banyak diantara mereka yanga mengorbankan segala sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, entah itu karir, posisi, prestasi bahkan pada tinggkat yang “ekstrim” banyak yang “kehilangan” orang tua kandung mereka sendiri karena kelompok kajiannya mengajarkan untuk melakukan hal itu yang mana hal tersebut hanya akan berakhir pada ujung lorong yang gelap dan tidak bercahaya.

Cara dan metode untuk memahami Islam itu sangat penting. Itulah sebabnya, salah satu prinsip terpenting dalam Islam adalah “Al Ghayah” la tubarrir al washilah” (tujuan itu tidak menyebabkan kita menghalalkan segala cara). Begitu pula dalam memahami Islam, cara dan metode untuk sampai kesana tidaklah kemudian menyebabkan kita boleh mengambil Islam dari orang-orang yang sesat pemikirannya walaupun sebagian orang memanggilnya dengan sebutan “ustadz” atau koran dan majallah menyebutnya sebagai “cendikiawan muslim terkemuka”

Agar semangat yang tulus itu tidak menjadi korban yang sia-sia dalam pencariannya terhadap kebenaran, berikut beberapa prinsip yang penting dalam mendalami dan mempelajari Islam:

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat beliau adalah qudwah (panutan dan teladan) dalam berIslam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah qudwah (panutan dan teladan) pertama kita dalam berIslam, kemudian setelah itu para shahabat Radhiyallahu ‘Anhu, karena Allah Subhanaahu Wa Ta’ala telah mentazkiyah mereka dan juga karena yang mendidik dan mentarbiyah mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri hingga beliau wafat dalam keadaan ridha terhadap mereka. Oleh sebab itu jika ingin berislam dengan benar dan selamat maka tanyakanlah kepada siapapun yang mengajarkan Islam “Apakah ajaran ini pernah dicontohkan oleh Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat beliau ?” Bila tidak, tentu anda sudah paham apa yang harus anda lakukan. Namun jika jawabannya “Ya” maka pastikanlah bahwa hal tersebut memang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ingatlah ! Bahwa Allah Subhanaahu Wa Ta’ala menyediakan ancaman barat bagi siapapun yang menyelisihi jalan ini, Allah Subhanaahu Wa Ta’ala berfirman :

æóãóäú íõÔóÇÞöÞú ÇáÑøóÓõæáó ãöäú ÈóÚúÏö ãóÇ ÊóÈÜóÜÜíøóÜäó áóåõ ÇáúåõÏóì æóíÜÜÜóÊøóÈöÚú ÛóíúÑó ÓóÈöíáö ÇáúãõÄúãöäöíäó äõæóáøöåö ãóÇ Êóæóáøóì æó äõÕúáöåö ÌóåÜóÜÜäøóãó æóÓóÇÁóÊú ãóÕöíÑðÇ
ÇáäÓÇÁ : 115

“Dan barang siapa yang menentang/ mendurhakai Ar Rasul setelah jelas baginya petunjuk (yang benar), lalu mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisaa’ : 115)

Kesimpulannya, bagaimana cara berislam yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya, maka begitu pula cara berislam yang harus kita tempuh. Bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat memperhatikan pamahaman nilai-nilai Tauhid maka begitu pulalah seharusnya kita sekarang. Jika para shahabat Radhiyallahu ‘Anhu tidak pernah meminta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mena’wilkan sifat-sifat Allah Subhanaahu Wa Ta’ala atau mena’wilkan hal-hal ghaib maka begitu pulalah semestinya kita saat ini. Dan selanjutnya, silahkan anda mencari sendiri contoh-contoh yang dapat di masukkan dalam perinsip ini.

2. Sumber pengambilan ajaran Islam yang benar adalah Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman As Salaf Ash Shalih
Perinsip ini tentu sudah jelas, sebab Islam itu berasal dari Allah Subhanaahu Wa Ta’ala maka sudah semestinya ajaran Islam yang benar itu terkandung dalam Al Qur’an. Adapun mengapa kita harus mengambil ajaran islam yang benar itu dari as Sunnah itupun sudah jelas, karena dalam Al Qur’an sendiri Allah Subhanaahu Wa Ta’ala telah menegaskan kewajiban tersebut dan juga karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah manusia yang dipilih oleh Allah Subhanaahu Wa Ta’ala, tentulah beliau yang paling memahami semua kehendak Allah yang tertuang dalam Al Qur’an. Jika bukan beliau yang memahaminya lalu siapa lagi ?

Pada umumnya lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi Islam selalu meneriakkan slogan-slogan yang sama “Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” bahkan firqah-firqah dan jama’ah- jama’ah yang paling sesat sekalipun masih saja ada yang mengatakan berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah, lalu siapa yang menentukan “Versi Islam” yang sebenarnya. Untuk itu perlu direnungkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã ÎóíúÑõ ÇáäøóÇÓö ÞóÑúäöí Ëõãøó ÇáøóÐöíäó íóáõæäóåõãú Ëõãøó ÇáøóÐöíäó íóáõæäóåõãú 

“Sebaik-baik manusia adalah di generasiku (para shahabat), kemudian generasi setelah mereka (paran tabi’in) kemudian generasi setelah mereka (para taabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memuji ketiga generasi ini yang kemudian di kenal dengan “Al Qurun Al Mufadhalah” (generasi-generasi yang mendapatkan keutamaan), tentu maksud beliau bukan sekedar pujian lalu selesai, namun dalam pujian tersebut tersirat sebuah perintah bahwa jika kalian ingin memahami Islam secara benar lalu mengembalikan kejayaan ummat Islam yang pernah diraih oleh ketiga generasi itu maka satu-satunya jalan adalah menyamakan pemahaman Islam kalian dengan pemahaman Islam ketiga generasi tersebut yang juga di kenal dengan “As Salaf Ash Shalih” (generasi pendahulu yang shalih).

3. Tidak ada mahluk yang ma’sum (aman dari dosa) selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Prinsip ini berguna dalam menentukan sikap kita ketika mendapati seorang alim yang kita kagumi atau da’i yang kita hormati atau bahkan ustadz yang selalu mengisi kajian kita melakukan atau menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah untuk tidak mengikutinya. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

áÇó ØóÇÚóÉó áöãóÎúáõæÞò Ýöí ãóÚúÕöíóÉö Çááåö ÚóÒøó æóÌóáøó

“Tidak ada keta’atan kepada mahluk untuk bermaksiat kepada Allah ” (HR. Ahmad)

4. Tidak dibenarkan menerima sebuah pendapat atau hasil ijtihad kecuali setelah menimbangnya dengan Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman As Salaf Ash Shalih
Zaman ini adalah zaman dimana pada setiap harinya bila kita sempat mengikutinya berkembang berbagai pemikiran dan pendapat. Mengahadapi arus yang sangat kuat ini tentulah tidak mudah. Orang-orang yang sanggup memenangkan pergumulan ini hanyalah orang-orang yang memiliki pijakan yang kuat dalam menimbang setiap pemikiran yang lain atau dari satu “cara berislam” ke “cara berislam” yang lain, maka setiap pendapat atau pemikiran yang hinggap ke telinga dan otak. Kita harus timbang dengan timbangan Al Qur’an, As Sunnah dan pemikiran-pemikiran kaum salaf. Oleh karena itu prinsip ini secara tersirat mengajak seluruh kaum muslimin untuk lebih banyak “bergaul” dengan kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta kehidupan kaum salaf.

5. Tidak dibenarkan memperten-tangkan Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal rasio dan produk-produk akal lainnya.
Artinya pada saat Al Qur’an dan As Sunnah telah menetapkan suatu perkara maka pada saat itu seseorang muslim tidak lagi di benarkan untuk mencari ketentuan atau jalan keluar selain yang telah ditetapkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dan inilah manhaj yang ditempuh oleh generasi As Salaf Ash Shaleh ketika mereka mengkaji dan mendalami Al Qur’an dan As Sunnah dan manhaj ini yang mereka wariskan kepada generasi-generasi sesudah mereka.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah pernah menuliskan : “Salah satu dasar (berpikir) yang telah di sepakati oleh para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah bahwa tidak di benarkan seseorangpun menentang Al Qur’an baik dengan pendapatnya, perasaannya, rasionya, analoginya atau wajd-nya (sebuah istilah kaum sufi yang sering merasa mereka menerima wahyu lewat mimpi atau yang lainnya) sebab Al Qur’an itu adalah imam yang harus di ikuti. Oleh sebab itu tidak pernah di temukan dalam ucapan seorang kaum salaf di mana ia menentang Al Qur’an baik dengan baik dengan akal, rasio ataupun analogi (qiyas) tidak pula dengan perasaan atau wajd-nya dan tidak seorangpun (dari mereka) yang mengatakan bahwa dalam masalah fulan terdapat pertentangan antara an Naql (dalil Al Qur’an dan As Sunnah) dengan akal. Apalagi sampai mengatakan bahwa dalam masalah fulan rasio harus dikedepankan atas An Naql” (Lihat Al Majmu’ Fatawa 13:27-29)

Karena itu para ulama rabbani menyatakan bahwa antara akal yang sehat dengan wahyu Allah itu tidak mungkin bertentangan. Atau dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa jika ada akal yang “merasa” bertentangan dengan wahyu Allah, maka ini berarti akal tersebut sedang tidak sehat alias sakit. Berkata Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hanbal : “Ya Allah ! Matikan kami dalam Islam dan As Sunnah” (Al Fikrah)
-Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc-

sumber: wah

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: