jump to navigation

Sang Pembangun…Seharusnya adalah ‘Abid yang Khusyu’ December 7, 2008

Posted by pakwandi in Muhammad Ihsan Zainuddin.
Tags:
trackback

 

Muhammad Ihsan Zainuddin

Membaca sejarah akan mengantar kita pada satu poin penting. Yaitu bahwa para ulama rasikhun dan du’atmushlihun adalah sosok-sosok pembangun kejayaan ummat dari waktu ke waktu. Dan kepribadian para pembangun itu seperti menyatu pada sebuah karakter yang khas: mereka lebih banyak melewati waktu mereka dengan jejak-jejak penghambaan dan taqarrub kepada Allah, larut dalam mendzikir-Nya, meminta pada-Nya, serta menunjukkan betapa faqirnya diri mereka pada-Nya. Dan, mereka tak terhalangi untuk melakukan itu semua oleh amanah ilmu dan da’wah yang mereka emban, apalagi larut dalam kelalaian dunia yang menipu.

Bacalah satu persatu halaman sejarah para Mursalin –shalawat dan salam Allah semoga tercurah untuk mereka-, para mujaddid dan pejuang rabbani yang telah membangun keagungan ummat Tauhid sepanjang usia kemanusiaan yang panjang ini…Lembar-lembar sejarah itu akan menjadi bukti paling nyata bahwa mereka –para pembangun itu- sesungguhnya di saat yang sama adalah para ‘abid yang jiwanya lebur dalam kekhusyu’an penghambaan pada Allah. Tidak! Bukan aku yang mengatakannya padamu…Tapi Rabb merekalah yang mengisahkannya untuk anak manusia di sepanjang zaman…

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah. Yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka pun tersungkur bersujud dan menangis.” (Maryam:58)

Lihatlah penghulu para pembangun itu, Sang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam! Bukankah ia adalah sosok paling taqwa pada Tuhannya? Lihatlah, betapa ma’rifat, pengagungan dan rasa takutnya pada Allah –dengan semua beban untuk menyampaikan risalah, tanggung jawab keluarga dan sosial yang terletak di pundaknya- mendorongnya untuk menyibak tabir kegelapan malam dengan berdiri tegak untuk bersujud pada Rabbnya, hingga kedua kakinya …Ah! Engkau pun tahu benar apa yang terjadi padanya…

Apakah engkau akan katakan bebanmu lebih berat dari Sang Kekasih itu? Tapi lihatlah, ia menghabiskan tiga hari di pertengahan bulan untuk berpuasa. Ia menegakkan shalatnya hingga suara sesengguk tangisnya terdengar menyesakkan dadanya. Ia bersedakah dan berinfak di jalan Allah, hingga orang-orang mengatakan: “Wahai kaum! Masuklah kalian ke dalam Islam, sebab Muhammad memberi seperti tak pernah takut akan kemiskinan!” Ia melantunkan Al-Qur’an, hingga nyaris hanya jinabah sajalah yang menghalanginya untuk itu. Detik-detik harinya ia lewati dengan dzikir dan istighfar, hingga ia memohon ampun pada Rabbnya seratus kali dalam sehari. Para sahabatnya bahkan pernah menghitung bahwa dalam satu majlis ia mengulangi kalimat ini sebanyak 100 kali: Rabbighfirli wa tub ‘alayya, Innaka anta-ttawwabu-rrahim. “Tuhanku, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, karena sesungguhnya engkau adalah Maha penerima taubat dan Maha kasih.”

Itulah bekalnya melewati hari-harinya. Itu pula bekalnya ketika saat-saat genting dan merisaukan hinggap dalam hidupnya. Bukankah engkau ingat saat ia melewati hari-harinya di Gua Hira sebelum ia wahyu pertama turun padanya? Bukankah engkau ingat saat ia larut dalam doa panjangnya di Badar? Selendangnya jatuh ke tanah dan Sang Ash-Shiddiq begitu risau padanya…

Dan seperti itulah beliau seterusnya. Doa, kekhusyuan hati dan penghambaan selalu saja menjadi senjata dan bekalnya di setiap waktu saat menghadapi detik-detik kritis dan menggelisahkan hatinya.

Lalu seperti itu pula yang akan engkau temukan saat menengok sejarah kafilah kaum beriman yang meniti jejak Rasulullah. Ibadah menjadi bekal utama mereka dalam mengemban amanah terberat sekalipun dalam hidup ini.

Sang muhaddits dan hafizh ummat ini, Abu Hurairah –semoga ridha Allah selalu tercurah untuknya- misalnya. Ia, istri dan khadimnya saling bergantian melewati malam. Mereka membagi malam menjadi tiga, dan setiap orang menghabiskan sepertiga bagiannya dalam ibadah, lalu setelah itu giliran yang lain melewati sepertiga malamnya dalam hal yang sama. Dan begitulah seterusnya.[1]

Muhammad ibn Sirin berpuasa sehari dan berbuka pada hari lainnya.

Sa’id ibn al-Musayyib, sang Sayyid al-Tabi’in, menunaikan ibadah haji sebanyak 40 kali dan 40 tahun lamanya tak pernah luput dari shalat berjama’ah, 20 tahun diantaranya tak sekalipun ia melihat pundak-pundak manusia. Itu berarti, selama 20 tahun itu, selalu saja ia berada di shaf terdepan.[2]

Sufyan al-Tsaury, lisannya tak pernah mengucap sepatah kata pun, kecuali dalam amar ma’ruf nahi mungkar.

Al-Auza’iy, sang faqih al-Syam, selalu teguh untuk duduk di tempat shalatnya usai shalat shubuh hingga mentari terbit di ufuk Timur. Dan ia mengatakan, “Sedemikian inilah tuntunan para Salaf.”[3]

Imam al-Syaf’iy, ia dikenal sebagai sosok yang paling dermawan untuk urusan makanan, dinar dan dirham.

Imam Ahmad ibn Hanbal. Lihatlah betapa sabarnya ia melewati hari-hari kemiskinannya selama 70 tahun. Al-Qur’an ia khatamkan sebanyak dua kali dalam setiap 7 malam –dan itu selain apa yang ia baca di siang hari-. Usai shalat Isya, biasanya ia tidur sebentar, lalu setelah itu ia bangun untuk menunaikan shalat dan berdoa pada Rabbnya hingga fajar menyingsing.[4]

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah. Waktunya tidak keluar dari 4 hal: membaca, shalat, tafakkur dan berdzikir.[5]

Dan seperti itulah karakter dasar para pembangun peradaban dunia itu. Tapi itulah rahasianya. Bahwa kesungguhan dalam ibadah adalah pijakan dasar dalam kehidupan para du’at pembangun peradaban di setiap zaman. Dan karena itu, seharusnya inipun menjadi hiasan jiwa para pembangun hari-hari ini. Terlebih bahwa kenyataannya ‘angin-angin jahat’ itu semakin kencang, musuh dan lawan bersatu dari segenap penjuru, serta kelemahan materil dalam berbagai lini. Lalu apa yang harus kita lakukan? Hanya satu: kembali tersungkur pada-Nya.

“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum mentari terbit dan sebelum ia terbenam, serta di pertengahan malam. Maka bertasbihlah di penghujung siang, agar (hatimu) tenang.” (Thaha:130)

“Dan mohonlah pertolongan (pada Allah) dengan sabar dan shalat.” (al-Baqarah:45)

Dan ketika saat kemenangan da’wah itu tiba, bukankah hanya kepada-Nya juga kita harus kembali? Bukankah kemenangan sesungguhnya adalah titik dimana kita harus kembali tersungkur di hadap-Nya?

“Apabila dating pertolongan Allah dan kemenangan. Lalu engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan memohon ampunlah pada-Nya, sesungguhnya Ia Maha penerima taubat.” (al-Nashr:1-3)

Jadi, bagaimana kabar ibadah Anda hari ini, wahai ustadz panutan ummat? Bagaimana keseimbangan da’wah dan dzikir Anda hari ini, wahai ikhwan dan akhawat –yang dianggap sebagai ahli surga oleh para tetangganya-?

Hmm, bukankah sang pembangun seharusnya membangunkan dirinya terlebih dahulu? Karena kita tidak boleh menjadi lilin. Menerangi gulita, tapi tubuhnya hancur luluh begitu saja…

Cipinang Muara, 16 Mei 2006




[1] Hilyah al-Auliya’ 1/307.

[2] Hilyah al-Auliya’ 2/272, 3/135, 7/13.

[3] Siyar A’lam al-Nubala’ 7/114

[4] Hilyah al-Auliya’ 9/179

[5] Al-A’lam al-‘Aliyyah, hal.22

sumber: abul-miqdad.blogspot.com 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: