jump to navigation

Kesalahan Jalaluddin Rakhmat Terbongkar dalam Dialog Syiah di Makassar January 8, 2009

Posted by pakwandi in Uncategorized.
Tags: ,
trackback

Ketua Dewan Syura Jamaah Ahli Bait (Ijabi) Indonesia Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat (JR) tampil Sebagai pemateri tunggal dalam Dialog Muballigh dengan tema : “Syiah dalam Timbangan Alquran dan Sunnah”. Kamis Malam, 1 Januari 2009 di hotel horison Makassar.

Dedengkot Syiah Indonesia, yang biasa disapa Kang Jalal ini, memaparkan makalahnya dengan judul “Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.?”.

Acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi dan Informasi Islam (LSII) Makassar , yang diketuai Syamsuddin Baharuddin dan didukung ICC dan Ijabi ini dihadiri tiga asatidzah dari Wahdah, yakni Ust. M. Said Abd.Shamad, Ust. M. Ikhwan AJ, Ust. Rahmat  AR dan beberapa ulama, cendekiawan dan muballigh Kota Makassar, di antaranya Prof. Dr. Rusydi Khalid, Prof.Dr. Ahmad Sewang, Prof.Dr. Qasim Mathar, Fuad Rumi, Das’ad Latif, DR.Mustamin Arsyad, MA .

Dalam sesi kedua, dialog yang dipandu oleh pengamat politik Islam UIN DR.Hamdan Juhannis ini, Ustadz Rahmat mendapat kesempatan pertama, mengutarakan argumen.

Ustadz yang merupakan Ketua Lembaga Kajian dan Konsultasi Syariah (LKKS) Wahdah Islamiyah ini, sebelum mengomentari makalah JR, mengatakan bahwa Ahlus Sunnah tidak pernah membenci Ahlul Bait, Ahlussunnah sangat paham terhadap Sunnah dan menjunjung tinggi wasiat Rasulullah untuk mencintai Ahlul Bait.

Dari makalah tersebut, Ustadz memberikan komentar tentang buku acuan yang dituliskan JR, “ini adalah suatu bentuk pengelabuan terhadap data, dalam pembicaraan tentang buku-buku yang diambil acuan ternyata tidak seperti apa yang dituliskan atau kurang menyimpulkan secara sempurna”.

Pembatasan Ahlul Bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain
Misalnya, tentang pembatasan ahlul bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain yang berkenaan dengan Surah Al Ahzab:33.

Disebutkan dalam makalah JR:
“Masih dari Ummu Salamah: Ayat ini-Sesungguhnya Allah…-turun di rumahku. Aku berkata:Ya Rasululah, bukannkah aku termasuk Ahlulbait?Beliau bersabda:Kamu dalam kebaikan. Kamu termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.. Ia berkata Ahlul bait adalah Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain. Kata Ibn Asakir:Hadits ini Shahih (Al Arbain fi Manaqib Ummil Mu’minin 106). Hadits-hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa ahlulbait itu tidak termasuk ke dalamnya istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketua Departemen Dakwah DPP Wahdah ini sambil memegang laptop yang dilengkapi dengan program Maktabah Syamilah (kumpulan ribuan kitab), menegaskan bahwa adanya pembatasan tersebut di atas tidak sesuai dengan  apa yang ada dalam syarah Shahih Muslim yang bekenaan dengan hal tersebut.  Ketika kita kembali kepada surahAl Ahzab:33, ayat ini justru turun kepada Istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Hadits yang menyebutkan pembatasan di atas sebenarnya tidak bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Zaid Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu yang disebut juga dalam penjelasan JR sebelumnya.

“Said Ibnu Arqam Radhiyallalu ‘Anhu ditanya tentang siapa itu  Ahlul Bait, apakah hanya khusus Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain? kata beliau Radhiyallalu ‘Anhu, bahwa istri-istri Nabi adalah ahlul bait beliau, kemudian siapa yang diharamkan memakan sedekah, beliau mengatakan alu ja’far, alu atiq, alu Abbas (HR.Muslim). Menurut Ustadz Rahmat bahwa semua itu dari keturunan bani Abdul Muttalib, dan tentu termasuk Istri-istri Nabi, sebab ayat tersebut memang turun untuk mereka.

Dari hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa JR hanya mengambil hadits yang mendukung pemahaman  Syiah, tanpa melihat hadits shahih yang lainnya, sehingga mengambil kesimpulan pembatasan ahlul bait yang keliru.

Masalah Kepemimpinan Setelah Rasulullah jatuh ke tangan Ali Radhiyallalu ‘Anhu
Contoh kedua, tentang Ayat Wilayah (kepemimpinan) yang tercantum dalam makalah. Disebutkan  pemimpin dalam alquran  disebut ‘waliy”. Al Quran sudah memberikan petunjuk siapa yang sepatutnya dijadikan pemimpin setelah Allah dan RasulNya: Sesungguhnya pemimpin kamu itu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk (Al Maidah:55). Berkata Ibn Abbas, Al Suddi, Utbah bin hakim dan tsabit bin Abdullah:yang  dimaksud dengan orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di Masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya (tafsir al Tsa’labi 4:80).

Di antara rujukan yang dipakai JR dalam menetapkan sebab turunnya ayat ini adalah Tafsir Ibnu Katsir, namun setelah diperiksa ternyata Ibnu Katsir sendiri melemahkan riwayat yang menyatakan ayat ke 55 ini turun karena Ali ibn Abi Thalib dan menegaskan bahwa sebab turunnya ayat-ayat al-Maidah ini adalah untuk Ubadah ibn as-Shamit  Radhiyallalu ‘Anhu.

Sebelumnya, Ibnu Katsir menjelaskan makna (wa hum raki’un), bahwa kalimat ini bukan menunjukkan keadaan bagi orang yang berzakat sebab jika demikian berarti berzakat dalam keadaan ruku’ lebih afdhal dari berzakat tidak dalam keadaan ruku’ dan tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan akan hal itu. Namun sayang JR tidak menyebutkan komentar Ibnu Katsir untuk sebab turunnya ayat ini, metode penetapan yang dipakai menyiratkan bahwa Ibnu Katsir sepakat dengan mazhab ini padahal itu jauh panggang dari api. (Tafsir Ibnu Katsir, Qs. Al-Maidah:55)

Tidak Mengakui Kedudukan Hadits perintah untuk kembali kepada “Al Qur’an dan Sunnahku”.
Terakhir, komentar Ustadz Rahmat, tentang hadits kembali  pada Al Quran dan Assunnah yang didhaifkan. Sayang JR tidak kembali ke perkataan al-Albani sebagaimana kuatnya, ia merujukkan hadits al-Qur’an dan al-Ithrah ke beliau, padahal al-Albani menshahihkan keduanya. (Hadits al-Kitab dan Sunnahku dishahihkan dalam Shahih at-Targib wat Tarhib, Hadits No. 40)

Hadits Itrati kalau dilanjutkan dalam As-Shahihah al-Albani sangat jelas mengatakan orang-orang Syiah menggunakan  hadits ini untuk membenarkan mazhab Rafidhah dan hal itu sama sekali tidak benar, tidak seperti itu, beliau bantah dalam kitab tersebut, bahkan dalam mukaddimah kitab tersebut.

Kitab lain yang dipakai oleh JR dalam membenarkan mazhabnya adalah Kitab as-Shawaiq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajaral-Haitami, justru kitab itu untuk membantah Syiah, judulnya adalah: as-Shawaiq al-Muhriqah fi ar-Raddi ala Ahli ar-Rafdhi wa ad-Dhalali wa az-Zandaqah , ini bantahan Syiah yang “menuhankan” Ahlul Bait, namun sayang JR tidak jujur dalam mengambil pendapat-pendapat penulis.

“Seandainya ada waktu mengecek semua riwayat ini (dalam makalah JR), saya yakin bahwa riwayat-riwayat dalam buku tersebut, tidak seperti yang diinginkan Kang Jalal dalam Istidlalnya”, tegas Ustadz menutup komentarnya.

Pada kesempatan kedua, Ustadz Muh.Said Abd.Shamad, Lc mengutarakan komentarnnya. Ketua Dewan Syariah WI ini diawal pembicaraannya mengusulkan agar pembicaraan ini tuntas, “ Biar sampai jam 1 malam saya siap, karena kita mencari kebenaran”, katanya.

Ustadz juga sangat menyesalkan kepada panitia karena makalahnya tidak dibagikan sebelum hari H, sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengkritisi.

Mencela dan Melaknat Sahabat Amr bin Ash
Pada sisi yang lain, Ustadz mengingatkan tulisan Supha Atana pada konferensi Syiah di Makassar beberapa waktu lalu, yang berjudul “Mahzab Cinta dan Akhlak” yang banyak memuji  JR sebagai Ulama dan Cendikiawan yang paling intens membicarakan dan menganjurkan Mahzab Cinta dan Akhlak. Supha Atana yang sekarang Pimpinan Iran Corner Unhas mengatakan juga bahwa andaikata tidak karena cinta dan akhlak maka setiap hari kita akan mengkafirkan orang lain.

Dan dalam forum malam ini JR mengemukakan hadits yang menurutnya sudah banyak dilupakan oleh kaum muslimin, yaitu bahwa darah kamu, harta kamu dan kehormatan kamu diharamkan dan tidak boleh dirusak . Ungkapan di atas sangat bertolak belakang sekali dengan tulisan JR dalam bukunya terbitan 2008 yang lalu yang sangat mempermalukan dan mengkafirkan Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam buku tersebut JR menyebut Sahabat  Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu sebagai anak haram yang tidak diketahui bapaknya secara pasti dan dia sangat banyak dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa yang dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berarti dilaknat oleh Allah.

Ternyata kitab rujukan JR adalah kitab golongan Syiah yang memang sangat membenci  Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sangat banyak memalsukan keterangan-keterangan dengan dalil-dalil yang lemah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga Imam Syafii mengatakan bahwa golongan yang paling berani dan paling banyak membuat kepalsuan dan dusta ialah golongan Syiah.

Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi). Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Kedua anak al Ash (termasuk Amr bin Ash) adalah orang berimannya Qurais. Beliau masuk Islam dalam perjanjian Hudaibiyah kemudian ditugaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memimpin tentara Islam dalam perang Dzat al salasil dan selanjutnya ditugaskan sebagai penguasa di Oman. Beliau terkenal sebagai Panglima Islam yang banyak merebut daerah-daerah baru termasuk Palestina dan sekitarnya serta negeri Mesir, maka beliau ditunjuk sebagai Gubernur di Mesir oleh Muawiyah RA pada tahun 38 H. Beliau meriwayatkan 39 hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1324). Oleh karena itu Ustadz Said meminta JR mempertanggung jawabkan tulisannya dengan dalil yang Shahih.

Mengkafirkan Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu

Selanjutnya, JR menulis tentang Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia itu bukan saja fasik bahkan Kafir menurut  riwayat versi Syiah. Ustadz Said  sangat tersinggung akan hal tersebut.

Kata Ustadz, Muawiyah, iparnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan penulis wahyunya. Mungkinkah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih orang yang berjiwa kafir sebagai Penulis Wahyu? Juga Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan sesudahnya Khalifah Utsman juga menunjuk sebagai Gubernur di Syam. Bahkan beliau menjabat sebagai Khalifah sesudah Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu sekitar 20 tahun. Beliau meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebanyak 130 (lihat Nushatul Muttaqin Syarah Riyadul Shalihin Hal.1330).

Dan ternyata Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu telah didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ya Allah jadikanlah iya orang yang memberi petunjuk, orang mendapat petunjuk dan berilah petunjuk manusia dengannya (Hadits Shahih riwayat at Tirmidzi). Begitu banyak kelebihan Muawiyah yang tidak dapat disebut satu per satu dapat kita lihat diantaranya dalam kitab al ‘awashim min al qawasim hal.202-210 karangan al Qadhi Abi Bakr al Arabi

Bukan itu saja bahkan JR menulis dari sumber yang sama bahwa Muawiyah itu tidak senang mendengar nama Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu disebut dalam Adzan dan menganggapnya sebagai tanda bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat ambisius karena tidak senang kecuali namanya digandengkan dengan nama Allah Rabbul Alamin.

Beginikah Mahzab  cinta dan akhlak?dan beginikah menjaga kehormatan kaum muslimin?

“Kami, Pak Jalal, sangat sakit hati kalau keluarga kami dicela, apalagi dikatakan anak haram, dan dikafirkan. Tapi kami lebih sakit hati lagi kalau Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan anak haram, tidak ditau orangtuanya, dikatakan kafir”, Ungkap Ustadz dengan nada sedikit tinggi.

Lanjut Ustadz, Kalau tulisan JR yang berdasarkan keterangan yang lemah tersebut diterima, berarti kita mendustakan al Quran dan Hadits yang Shahih yang sangat banyak memuji para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan juga dapat berdampak kita meragukan al Qur’an yang telah dikumpulkan oleh para Sahabat dan juga menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mampu mendidik para Sahabatnya dengan baik. Naudzu Billahi min Dzalik dan sangat mengherankan JR sampai hati menulis tentang Sahabat dengan secara keji.

Ustadz sempat membacakan surah  al Fath   ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir”, Imam Malik mengatakan, orang-orang Syiah yang benci terhadap Sahabat adalah orang kafir berdasarkan ayat ini.

Fathimah Melaknat Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu (Pada akhirnya dikatakan Rasulullah dan Allah Melaknat Abubakar)

Dalam buku kecil yang memuat ceramah Asyura, JR mengatakan bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha telah mengutuk Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu karena tidak memberikan kepadanya harta peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal tersebut dibenarkan oleh JR berdasarkan hadits bahwa Fathimah itu adalah bahagian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang menjadikan Fathimah murka berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga akan murka dan melaknatnya dan apa yang dilaknat oleh Rasul berari dilaknat oleh Allah. Lalu JR membaca ayat surat al ahzab ayat 58.

Ustadz Said mengatakan bahwa sebenarnya Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu tidak memberikan harta peninggalan tersebut karena berdasarkan hadits yang shahih bahwa para Nabi itu tidak diwarisi, harta yang dia tinggalkan adalah menjadi sedekah (Hadits Bukhari Muslim).

Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Fathimah telah memaafkan Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu diahir hayatnya, setelah Abubakar datang menjenguknya dan meminta ridhanya (Hadits Riwayat Baihaqi dengan sanad yang kuat, lihat albidayah wa al Nihayah Juz V Hal.253)

Di akhir sesi dialog, Ustadz Said  dengan lantang menantang JR untuk berdiskusi pada waktu yang lain dan menegaskan bahwa Sunni-Syiah tidak akan mungkin dapat dipertemukan. Alasannya karena Sunni sangat menghormati Sahabat Abubakar, Umar, dan Ustman dan Ali Radhiyallahu ‘Anhu Ajmain, sedangkang  Syiah hanya mengakui Syaidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan sangat mencerca tiga sahabat sebelumnya serta menganggap bahwa melaknat seluruh Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selain ahli bait dan pengikutnya, sebagai ibadah.

Lain halnya dengan Ustadz Ikhwan yang menjadi penanggap berikutnya, Ustadz memulai dengan sedikit nostalgia pada masa SMU, terkesan dengan buku karangan JR yang berjudul Islam Alternatif, “lama-kelamaan saya menyadari barangkali yang dimaksud JR Islam alternatife itu adalah Syiah”, ungkap Ustadz dengan nada bertanya.

Komentar Wakil Ketua Umum DPP WI ini selanjutnya, tentang ketertarikannya dengan ungkapan JR mengenai orang Syiah yang ahlul wara wal wafa, orang yang obyektif dan adil dalam memberi  penilaian. Ustadz sedikit terusik, dikatakan JR dalam bukunya  bahwa Imam Adzahabi menulis Mizanul I’tiqadi untuk memberi komentar kepada perawi dhaif.

Lanjut Ustadz, justru dalam mukaddimah Mizanul I’tiqadi diungkapkan bahwa, Imam Adzahabi mengatakan “saya tidak mengatakan semua yang saya sebutkan dalam buku saya, adalah perawi-perawi dhaif, tetapi orang-orang yang dianggap dhaif”. Maka dapat dikatakan itu adalah mizan (timbangan), apakah benar itu dhaif atau tidak.

“Makanya saya semakin terusik  lagi ketika sempat membaca kitab al Mustafa pada bagian masa muda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Pak Jalal di situ mengomentari seseorang yang sangat terkenal, Sufyan Ats Sauri disebut :yudallis (mengelabui)  wayaktubu anil kadzabin (pembohong). Saya merasa terheran-heran karena sebelumnya saya pernah membaca tahzibut tahdzib Ibnu hajar, sebagian ulama mengatakan bahwa beliau  adalah amirul mukminin fil hadits. Di buku Mizanul I’tidal Di buku Mizanul I’tidal, ternyata  Sufyan Ats Tsauri adalah al Hujjah Ats Sabtu (Sumber yang dipercaya), ada kata yang tidak dimasukkan kang jalal, saya tidak tahu apakah itu kutipan langsung atau kutipan antara dari kitab sirah an nabi al a’dham.

Dikatakan bahwa: Laa ‘ibrata liman qala innahu yudallis (mengelabui)  wayaktubu anil kadzabin, yang artinya : tidak ada atau tidak dianggap (ini kata yang tidak dimasukkan), orang yang mengatakan bahwa ats Tsauri melakukan tadlis dan menulis dari orang-orang dusta. Sekali lagi saya tidak tahu dan saya tidak ingin menghakimi di sini apakah Pak Jalal menyengajakan diri mengutip atau tidak membaca”, terang Pengurus MUI Kota Makassar ini.

“Saya berharap bahwa kita dapat berjumpa di dalam media yang lebih tepat, dalam dialog yang lebih sehat dan dalam ruang yang lebih obyektif”, tutup Ustadz dalam komentarnya.`

Senada dengan Asatidzah Wahdah, Dr.Hj.Amrah Kasim, MA, Dosen UIN Alauddin Makassar di awal komentarnya menyatakan penolakannya terhadap ajaran Syiah. Lulusan Al Ahzar Kairo ini pernah menanyakan ke Ulama-ulama Al Ahzar, kenapa referensi Syiah tidak diajarkan di kampus yang dikenal menara ilmu ini. Lalu Ulama-ulama Al Ahzar menjawab: “Ya Binti, nahnu nuhibbu Rasulallah wa Ahlal Bait, wa lakin laa natasyayya’ ”, disambut teriakan Alllahu Akbar dari beberapa peserta, artinya: kami mencintai Rasulullah dan Ahlul Bait dan kami tidak bersyiah. “Sikap saya seperti itu juga, saya mencintai Rasulallah,  Ahlul Bait tapi saya tidak bersyiah”, tegas yang mengaku Azhary ini di dalam forum itu.

Kesalahan Fatal Menerjemahkan Penggalan Surah Al Maidah:55 dan Surah Al Ahzab:33
Yang kedua, yang dikomentari Direktur Pesantren Putri IMMIM Makassar ini setelah menyimak buah-buah pikiran  JR. Kesalahan fatal JR dalam  penerjemahan surah al Maidah:55 dalam penggalan ayat, …innama waliyyukum….   “ , suatu kekeliruan menerjemahkan innama menjadi sesungguhnya. “innama itu,  tidak bisa diterjemahkan sesungguhnya di situ, itulah salah satu perilaku orang Syiah dalam membelokkan  makna ayat untuk kepentingannya”, jelas Istri Doktor Tafsir Al Ahzar, DR.Mustamin Arsyad MA ini.

Berikutnya, yang fatal sekali, tidak dimasukkannya Istri Nabi dalam Ahlul Bait. “Keluarnya zaujati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Ahlul Bait, saya pikir ini adalah suatu kekeliruan besar (disambut ucapan Allahu Akbar dari Ustadz Said). Saya banyak mengkaji buku-buku Syiah, memang metodenya sama, banyak membelok-belokkan makna ayat “, tegasnya lagi.

Sementara itu, JR dalam jawabannya mengakui kesalahannya, termasuk tanggapannya terhadap  Dr. Hj. Amrah, tentang kesalahannya dalam menerjemahkan Al Qur’an surat Al Maidah: 55, JR minta maaf.

Sebagai kesimpulan dari dialog tersebut, JR yang terpojok dialog ini akhirnya berkilah kalau dirinya bukan syiah, “Saya cinta ahlul bait, dan Saya tidak jadi Syiah, (lalu dilanjut) tapi Syiah menurut definisi saya, dan itu definisi yang diajarkan oleh para iman ahlul bait kami,” kilah JR. Meskipun dari ucapan itu dapat dipahami hanyalah kedok semata, sebab selama ini JR selalu mengagung-agungkan mazhab Syiah, termasuk banyak mengangkat referensi syiah, bahkan JR dianggap sebagai pelopor Syiah di Indonesia.

Sebagai penguat, kami  kutip dua sms dari salah seorang tokoh dan pengamat Islam yang hadir malam itu ke asatidzah Wahdah:

“TADI MALAM, IJABI LAKSANA MULAI MENGGALI LUBANG KUBURNYA SENDIRI. MESKIPUN TAMPAKNYA MEREKA TDK MENYADARI DAN BOLEH JADI JUSTRU SEBALIKNYA.”

“ ALHAMDULILLAH. SAYA TERINGAT, SEBGMNA KETIKA BUKU ISLAM ALTERNATIF DITIMBANG O/ORG DEWAN DAKWAH, KETIDAKJUJURAN (KELICIKAN?) KG JALAL SEMALAM, KEMBALI TERULANG-PAMER REFERENSI. TAPI MENGUTIP SEC TIDAK FAIR. SMOGA KG JALAL MAU MENYADARINYA. WALLAHU A’LAM”

Kepada para pengagum dan pengikut JR agar tidak menelan mentah-mentah pemikiran JR, yang  banyak mengambil dalil dan pendapat Ulama Ahlussunah secara sepotong-potong yang “menguntungkan” mazhabnya sendiri, namun perkataan yang membantah mazhab tersebut dari ulama yang sama tidak akan dikutip bahkan meskipun datang dalam konteks dan rujukan yang sama. Semoga Allah menunjuki kita semua jalan yang lurus dan mengembalikan ke jalan lurus itu orang-orang yang tersesat dan menyimpang.

wahdah.or.id

Comments»

1. falseto - January 12, 2009

Mas Wandi, kalo person Ahlul Bait tidak dibatasi, maka bukan hanya isteri2 nabi saja yang bisa masuk, tetapi juga Abu Jahal (paman Nabi)yang sangat memusuhi dakwah nabi !

Mas kalo anda agak teliti dikit, ayat 33 QS Ahzab ini sangat erat kaitannya dengan QS Al-Baqarah 124, yaitu masalah kepemimpinan (Imamah). Dalam masalah Imamah ini Allah tidak sembarangan menunjuk person. Dalam ayat 124 itu diceriterakan perihal pengangkatan Ibrahim menjadi Imam. Ketika Ibrahim meminta kepada Allah dengan kalimat :….”wa min dzurriati (bagaimana dengan keturunanku)?” Allah SWT menjawab :”….la yanalu ahdzidzdzoolimin…(Imamah tidak akan pernah mengenai kepada orang2 dzalim)”. Artinya baik orang2 dzalim maupun mantan dzalim spt para sahabat dan istri2 nabi yang pernah menyembah berhala dll tidak akan pernah ditunjuk oleh Allah untuk menjabat kepemimpinan Ilahiah.

Ayat Thathhir identik dengan “Ishmah” (suci dari dosa) yaitu penyucian/pembersihan yang terus-menerus sekelompok orang2 khusus dari dosa (yuthahhirokum thathhiro”) yang sebelumnya sudah mencapai maqom “thoohiruun” (suci) (tidak pernah menyembah berhala, riba, mengubur bayi hidup2 dll) shg menjadi “muthohharuun (orang2 yang disucikan- lihat AlWaqi’ah 79). Sementara isteri2 Nabi (di luar Khodijah) tdklah punya maqom setinggi itu.

Jika ayat ini ditujukan untuk para isteri nabi, maka ayat ini tidak sesuai dg kenyataan dalam sejarah yaitu :
– Diantara isteri2 Nabi ada yang menyakiti hati Nabi saw berkali-kali sehingga Nabi menjauhkan diri dari mereka satu bulan penuh dan mengancam akan menceraikan mereka (Al Ahzab 28-29) (sirah al-A’immah juz 1 hal 12)
– Diantara mereka ada (2 org) yang berdemontrasi di hadapan Nabi saw (lihat at-Tahrim ayat 4) shg Allah murka dan mengancam akan menceraikan keduanya dari Nabi saw. Dan para istri Nabi tidak dijamin masuk surga (lihat At Tahrim ayat 10).
– Diantaranya ada yang menyulut api peperangan melawan Khalifah yang sah (Ali) (Perang jamal)

Selain itu kata “innama” menunjukkan bahwa ada [b]pengkhususan pada sesuatu.[/b]

Mengenai hadis Zaid bin Arqam, anda tidak bisa membedakan antara penjelasan Zaid bin Arqam mengenai para isteri Nabi sebagai anggota Ahlul Bait Nabi secara umum dan Ahlul Bait secara khusus/terbatas. Coba lihat dalam kitab yang sama (Sahih Muslim), Zaid bin Arqam ketika ditanya siapa Ahlul Bait, apakah para isteri nabi ? Ia menjawab : Tidak, demi Allah, seorang wanita (isteri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu, jika suaminya menceraikannya, dia akan kembali kepada orang tuanya dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah KETURUNANNYA yang diharamkan untuk menerima sedekah.”

Sama juga dg keluarga kita. Pada hakekatnya yang disebut keluarga adalah anak/keturunan kita. Makanya dalam hadis Tsaqalain (Sahih Muslim) Nabi saw berwasiat kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan Kitabullah wa ithrati ahlilbaiti. “Ithrah” adalah keturunan.

Begitupun dengan dalil2 mengenai penunjukan Ali bin Abi Talib, Syi’ah tidak mengada-ada. Kesahihan Hadis Ghadir Khum diakui oleh Al-Bani. Hanya saja Al-Bani menafsirkan “maula” bukan khalifah, tetapi hanya “penolong”. Kalo anda lebih condong kepada pendapat Al-Bani, kenapa anda keberatan terhadap pendapat Syi’ah ? Coba anda pikir dengan logika yang sehat, apakah masuk akal MENJELANG WAFATNYA Nabi cape2 ngumpulin ratusan ribu kaum muslimin di Ghadir Khum hanya untuk mengumumkan bahwa Ali adalah PENOLONG kaum muslimin ! Konyol kan ?

2. Penyaran - January 20, 2009

🙂 Pak, bila saya boleh sarankan, jangan melihat suatu pandangan dengan emosi. Lihatlah dengan pikiran yang jernih. Dan, jangan baca buku dari satu jenis saja. Lihat juga hal yang lainnya. Kemudian, akan tampaklah kebenaran, dan bahwasanya kebenaran itu nyata..:)

3. aris - February 26, 2009

bravo untuk kang jalal, aku mendukungmu.mereka terlalu memakai emosix.coba pakai logika masa imam ali yang sejak kecil bersama rasululullah jarang dibahas.malah umar bin khattab

4. islam sejatiku - March 9, 2009

mereka yang mendialogkan ini sesungguhnya malah gak ngerti arti t’giyh terutama syiah…jika kita memang merasa benar…..maka yang bs kt lakukan hanya berdoa smga di percepat kemunculan imam kita AL Mahdi …dan Dialah Yang akan membuka n menggelar kbnran ini…..
saudaraku orang syiah…IMAM ALI pernah berkata bahwa akan datang suatu masa di mana kebenaran akan benar2 tersembunyi….gitu sodara ku…..hidup syiahhhh…….

5. admin - March 10, 2009

Untuk teman-teman diatas:
Silakan kunjungi situs bagus tentang Syiah di http://www.hakekat.com

6. Abu Fauzan - March 10, 2009

Betul2 buat pengomentar di atas belajar baik-baik di http://www.hakekat.com/, tapi jangan anda emosi dulu baca aja baik2.

7. abutaqy - March 11, 2009

@falseto

Al-Ahzab:33, memang turun untuk istri-istri Nabi, tidak diragukan lagi dan sangat jelas sekali konteks ayatnya.. sedangkan hadits kisa’ adalah tambahan terhadap pengertian ahlul bait yg ada dlm ayat tersebut.

Dari Anas r.a, ia berkata : “Nabi SAW melangsungkan pernikahan dengan Zainab binti Jahsy dengan hidangan roti dan daging maka saya mengirim makanan. Lalu Nabi SAW keluar dan menuju kamar Aisyah seraya berkata, ‘Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu)’ Maka Aisyah menjawab, ‘Wa alaika salam wa rahmatullah (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). ‘Lalu Nabi SAW mengitari kamar semua istrinya dan berkata kepada mereka seperti yang dikatakan kepada Aisyah, dan merekapun menjawab seperti jawaban Aisyah” (H.R.Shahih Bukhari)

Jelaskan kalo istri2 Nabi termasuk ahlul bait?

8. Ahmad - March 14, 2009

saya lebih setuju komentator yang tidak pro penulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya terhadap Jalaludin Rahmat. saya tiap hari ahad sering mengikuti ceramahnya Jalal, sampai saya sering menangis karena saya pernah menganggap dia sesat dengan memilih syi’ah. saya tahu dia, tetapi dia tidak kenal saya. saya tahu dia sangat menyayangi anak kecil dan kaum mustad’afin. Sialturahmilah dengan dia tanpa suuzan. saya yakin bahwa penulis tidak mengenal pak Jalal, tetapi hanya kata orang. Jika benar anggapan saya, masa kita bicara atau menulis sesuatu atau seseorang yang hanya baru Anda lihat di Seminar. belajarlah kepada saya untuk memahami sosok Jalal. Maaf ya semua tulisan Antum akan dipertanggungjawabkan di Akhirat, tidak takutkah Antum?

9. sartono - March 15, 2009

Pak anda sama benar denga adian hussain yang mengomentari kang jalal dengan sebutan sesat . akhlak kang jalal sudah terihat jauh berbeda dengan anda. belajarlah dengan benar tidak usah dulu membicarakan kurikulum yang masih jauh anda harus tempuh.
yang kang jalal ucapkan mengandung kajian jauh yang harus kamu tempuh dengan kecerdasanmu jadi bukan dengan menggugah emosimu
sehingga terlihat benara benar sotoy.nya kamu.

10. antirafidhah - March 15, 2009

@Falseto,

Tafsiran anda sangat salah kaprah mengenai masalah imamah dlm QS 2:124 di atas! perhatikan konsep Islam yg sdh Masyhur ini : “Barangsiapa yang masuk Islam, maka ia tidak akan dipertanyakan akan apa yang telah diperbuatnya pada masa jahiliah.” semuanya hapus, tak ada bekasnya lagi, kembali ke fitrah, catatan baru lagi..

Apalagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam telah menjadi saksi keimanan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman di berbagai hadits2-nya.

Hujjah anda itu sungguh tidak kuat dan seenaknya sendiri..

11. baqir - March 23, 2009

KOQ, IMAM MAHDI YG DULU PERGI BERSEMBUNYI GAK MUNCUL2, YA? PADAHAL, NEGARA SYIAH IMAM SATU PAK (12) IRAN DAH BERDIRI. APA DIA TAKUT KPD AHMAD NEJAD? ATAU, DIA DAH PERNAH MUNCUL, TAPI DISEMBUNYIKAN DI PENJARA BAWAH TANAH BY PARA MULLAH?

ATAU, DIA IMAM TAK BERTANGGUNG JAWAB. SEENAKNYA SAJA MENUNTUT UNTUK DIIMANI, TAPI KEMUDIAN LEPAS TANGAN DENGAN PERSOALAN UMAT.

12. ash - March 31, 2009

Sesungguhnya kalian akan melihat bahwa para Rafidhah (Syiah) itu sesat..

Semoga ALLAH membuka mata hati kalian agar bisa mendapatkan Hidayah..

Sesungguhnya ALLAH maha Mengetahui segala suseatu yg disembunyikan di hati manusia…

Utk kang Jalal: bersegeralah bertobat , anda jgn bersembunyi dibalik tipu daya lidah..

13. mak - March 31, 2009

asalamualaikum wr wrb

dimana mana ajaran sesat sebagian besar tidak mempunyai landasan yang kuat, ambil contoh jangankan dokrin trinitas ketuhanan yesus saja cacat ataupun lemah baik daru segi referensi maupun sejarah, didalam perjanjian lama dan baru tidakada ucapan yesus yang mengatakan dirinya tuhan, ditambah pada masa hidupnya para sahabt yesus tidak ada yangmenyembahnya baru pada aba ke 4 timbul adanya kelompok yang mengaku bahwa yesus tuhan,

kembali kejaran syiah yang mengugat kholifah sebelumnya kalaulah imamah begitu penting kenapa didalam alquran dan hadits nash secara tegas bahwa penganti nabi adalah imamah dan yang mengatikan adalah imam ali, imam ali sendiri semasa hidupnya tidak hanya setuju terhadap kholifah sebelimnya bhahkan mendukung kholifah tersebut bandingkan dengan oara pengikut syiah yang meributkan jabatan kholifah, kalau alasanya demi persatuan imam ali tidak mau penyampaikan amanat nabi tentang dirinya yang layak menjadi kholifah maka imam ali telah berkhianat terhadap wasiat nabi atau imam ali orangnya penakut (ane tidak yakin imam ali bersikap seperti itu)

wasalam

14. mak - March 31, 2009

to falesto

ayat al ahzab memang yang menjadi fokus pembicaraan dalam ayat tersebut, ini bukan kata ane yang ilmunya dangkal tapi ibnu katsir sendiri yang bicara, isstri nabi layak disebut ahlul bait, didalam memahami alquran kita harus mendahulukan makna zahir ketimbang takwil yang dipaksakan, lagian nabi pernah memanggil istrinya dengan sebutan ahlul bait (riwayatnya ente cari sendiri,)

15. cherry augusta - May 4, 2009

silahkan baca di http://www.abatasya.net

16. gundah - May 12, 2009

Syiah, Yahudi & Nasrani adalah Saudara Kembar.
Semoga Allah dgn cepat mhancurkan sgl keZhaliman & keBathil…
A..min…yaa rabbala’lamin…

17. HERMAN - May 21, 2009

Kebenaran Hanyalah milik Allah SWT, ada dalam Al-Quran dan Hadist dan Sunnah Nabi. Namun, Penafsiran yang membuat perbedaan menjadi nyata. Mudah-Mudahan suatu saat kita memiliki Penafsiran yang dapat menyatukan segalanya.

18. falseto - June 4, 2009

@abutaqy:

“Al-Ahzab:33, memang turun untuk istri-istri Nabi, tidak diragukan lagi dan sangat jelas sekali konteks ayatnya.. sedangkan hadits kisa’ adalah tambahan terhadap pengertian ahlul bait yg ada dlm ayat tersebut.”

Pada kalimat awal memang konteksnya isteri2 Nabi (ahlul bait secara umum). Tapi mulai kata “innama yuridullah….” konteksnya sudah bukan isteri2 nabi lagi, tapi sudah dalam pengertian ahlul bait khusus. Penggunaan kata”innama” pasti ada maksudnya, yaitu dalam bahasa Arab disebut ‘adatul hashr, yg artinya”pengkhususan pada sesuatu dan tdk menyebar pada yg lainnya.” Siapa saja org2-nya ? Itulah yg dimaksud dlm hadis ahlul Kisa. Hadis ini bukan sekedar tambahan, tapi justru penegasan atas org2 yg senantiasa disucikan Allah yg mengeluarkan istri2 Nabi dari lingkupnya. Buktinya dlm hadis itu Ummu Salamah tdk diperkenankan bergabung di bawah kain al-kisa.

@abutaqy:
“Dari Anas r.a, ia berkata : “Nabi SAW melangsungkan pernikahan dengan Zainab binti Jahsy dengan hidangan roti dan daging maka saya mengirim makanan. Lalu Nabi SAW keluar dan menuju kamar Aisyah seraya berkata, ‘Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu)’ Maka Aisyah menjawab, ‘Wa alaika salam wa rahmatullah (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). ‘Lalu Nabi SAW mengitari kamar semua istrinya dan berkata kepada mereka seperti yang dikatakan kepada Aisyah, dan merekapun menjawab seperti jawaban Aisyah” (H.R.Shahih Bukhari)”

Hadis ini dan hadis yg sejenisnya hanya menjelaskan bahwa para isteri nabi adalah salah satu anggota Ahlul Bait Nabi dalam pengertian umum (rumah tangga Nabi). Sama juga dg rumah tangga anda. Isteri adalah salah satu anggota keluarga besar. Tapi hakekatnya yg disebut keluarga si ayah adalah anak cucu. Buktinya kalau cerai maka isteri akan kembali kepada keluarganya (lihat hadis Zaid bin Arqam dlm Sahih Muslim diatas).

Coba diperhatikan bahwa QS Al-Ahzab 33 bukan hanya bicara dalam konteks anggota ahlul bait saja, tapi menurut saya intinya adalah penyucian yg terus-menerus terhdp org2 tertentu/pilihan (Ishmah). Sedangkan ishmah erat hubungannya dg Nubuwwah/Imamah. Apa iya para isteri Nabi memenuhi syarat untuk disucikan Allah ? Padahal syarat Imamah dlm QS Al-Baqarah 124 tidak memasukkan org2 zalim maupun mantan zalim dalam lingkupnya.

Para calon nabi atau imam menurut saya adalah pribadi2 yg telah berhasil mengaktualisasikan seluruh potensi ilahiyah dalam dirinya secara utuh (Insan Kamil) yg dalam Al-Quran disebut dg Nafsul Kamilah. Pribadi2 spt ini selama hidupnya mulai dari kecil sampai wafat jelas tdk pernah melakukan maksiat spt menyembah berhala dll. Dalam sejarah tdk ada seorang Nabi yg latar belakangnya penjahat (baca pribadi tdk utuh).

Jadi apakah pantas pribadi2 yg tdk utuh masuk dalam kelompok pribadi2 yg disucikan Allah ?

Saya rasa anda dan saya sepakat bahwa keluarga Nabi spt Fatimah, Ali, Hasan dan Husein adalah pribadi2 yg suci/utuh sejak kecil sampai wafatnya dan mereka tdk pernah sujud di depan berhala.

19. falseto - June 4, 2009

@gundah:
“Syiah, Yahudi & Nasrani adalah Saudara Kembar.
Semoga Allah dgn cepat mhancurkan sgl keZhaliman & keBathil…
A..min…yaa rabbala’lamin…”

Hemm….kita lihat saja….siapa yg dekat dg amerika, siapa yg tak mau membuka pintu perbatasan Gaza, siapa yg tak mau membantu Hamas…

20. abutaqy - June 4, 2009

Siapakah Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Terjadi silang pendapat di kalangan ‘ulama dalam hal ini. Di antara pendapat-pendapat tersebut antara lain adalah :

1. Ahlul-Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama yang memegang pendapat ini membawakan dalil firman Allah ta’ala :

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا * وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا * وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Ahzaab : 32-34].

Ibnu Abi Haatim rahimahullah membawakan satu riwayat dalam tafsirnya :

من طريق عكرمة رضي الله عنه عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله : { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال : نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة. وقال عكرمة رضي الله عنه : من شاء بأهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم.

Dari jalan ‘Ikrimah radliyallaahu ‘anhu, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, tentang firman Allah : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait” ; ia berkata : “Ayat ini turun khusus kepada istri-itsri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara khusus”. ‘Ikrimah berkata : “Barangsiapa yang mau, aku tantang dia mubahalah, ayat ini turun tentang istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (saja)” [Tafsir Ibni Abi Haatim hal. 3132 no. 17675; tahqiq : As’ad Muhammad Thayyib; Maktabah Nizaar Mushthafaa Al-Baaz, Cet. 1/1417 H].

Pada awal ayat, Allah ta’ala berfirman mengenai istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga pada akhir ayat. Pada pertengahan ayat, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Maka, tidak ada alasan bagi mereka yang mengatakan bahwa keluarga atau ahlul-bait yang dimaksudkan bukan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada yang mengatakan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukan yang dimaksud oleh ayat, maka itu menyelisihi siyaq (susunan) ayat sebagaimana dhahirnya.

(-) Lantas bagaimana dengan kalimat yuthahhirakum dan ‘ankum pada ayat di atas yang menunjukkan jama’ mudzakkar (laki-laki) ?

(+) Maka dijawab : Sesungguhnya perkara yang disebutkan di awal ayat tertuju kepada para wanita secara khusus. Kemudian datang miim jama’ karena masuknya laki-laki bersama para wanita tersebut, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai sayyidul-bait. Apabila laki-laki masuk pada kumpulan wanita, maka nun niswah berubah (kalah) menjadi miim jama’ (mudzakkar). Hal ini adalah sesuatu hal yang ma’lum (diketahui) dalam ilmu nahwu.

إذا اجتمع المذكر مع المؤنث غلب المذكر

“Apabila mudzakkar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul (dalam satu kalimat), maka dimenangkan mudzakkar”.

Selain itu, dalil yang dibawakan ulama yang merajihkan pendapat ini adalah hadits yang menyebutkan bacaan shalawat dalam tasyahud :

اللهم! صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3369 dan Muslim no. 407].

Lafadh “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafadh “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad) sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Al-Bukhari :

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3370].

2. Ahlul-Bait adalah orang-orang yang diharamkan padanya menerima zakat.

Para ulama yang memegang pendapat ini membawakan dalil sebagai berikut :

عن يزيد بن حيان. قال: قال زيد بن أرقم: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا. بماء يدعى خما. بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه. ووعظ وذكر. ثم قال “أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال “وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي”. فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد! أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته. ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده. قال: وهم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم.

Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata : Telah berkata Zaid bin Arqam : “Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami : “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu : 1) Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an – ; 2) Ahlul-Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid : “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab : “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata : “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata : “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab : “Ya” [HR. Muslim no. 2408 dan Ibnu Khuzaimah no. 2357].

عن أبي هريرة يقول: أخذ الحسن بن علي تمرة من تمر الصدقة. فجعلها في فيه. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” كخ كخ. ارم بها. أما علمت أنا لا نأكل الصدقة ؟ “.

وفي رواية البخاري : أما علمت أن آل محمد لا يأكلون الصدقة

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Al-Hasan bin ‘Aliy pernah mengambil sebutir kurma dari kurma shadaqah yang kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kikh, kikh, muntahkan ! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta shadaqah (zakat) ?”.

Dan pada riwayat Al-Bukhari : “Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan harta shadaqah (zakat) ?” [HR. Al-Bukhari no. 1485 dan Muslim no. 1069].

عن ابن أبي مُلَيكة: ((أنَّ خالد بنَ سعيد بعث إلى عائشةَ ببقرةٍ من الصَّدقةِ فردَّتْها، وقالت: إنَّا آلَ محمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لا تَحلُّ لنا الصَّدقة)).

Dari Ibnu Abi Mulaikah : Bahwasannya Khaalid bin Sa’iid pernah diutus untuk memberikan seekor sapi shadaqah (zakat) kepada ‘Aisyah, namun ia menolaknya seraya berkata : “Sesungguhnya keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dihalalkan menerima shadaqah (zakat)“ [HR. Ibnu Abi Syaibah3/214 dengan sanad shahih].

Juga hadits ‘Abdul-Muthallib atau Muthallib bin Rabi’ah – terdapat perbedaan pendapat atas namanya – dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, bahwasannya mereka berdua memohon kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar ditugasi menarik zakat. Ketika mereka meminta bagian dari harta zakat, maka beliau bersabda :

إن الصدقة لاتنبغي لآل محمد. إنما هي أوساخ الناس

“Sesungguhnya shadaqah itu tidak diperkenankan bagi keluarga Muhammad, sebab ia hanyalah kotoran manusia” [HR. Muslim no. 1072].

Dapat dipahami dari larangan beliau di atas bahwa ‘Abdul-Muthallib bin Rabi’ah dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas – keduanya berasal dari Bani Haasyim bin ‘Abdil-Manaaf – termasuk keluarga Muhammad (Ahlul-Bait) yang terlarang menerima harta shadaqah/zakat.

Selain Bani Haasyim, sebagian ulama (seperti Asy-Syafi’iy dan Ahmad rahimahumallah) juga menambahkan Bani Al-Muthallib bin ‘Abdil-Manaaf sebagai Ahlul-Bait, karena beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganggap keduanya adalah satu :

عن جبير بن مطعم قال: مشيت أنا وعثمان بن عفان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلنا: يا رسول الله، أعطيت بني المطلب وتركتنا، ونحن وهم منك بمنزلة واحدة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إنما بنو المطلب وبنو هاشم شيء واحد).

Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku dan ‘Utsman bin ‘Affaan berjalan menuju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata : “wahai Rasulullah, Anda memberi bagian khumus kepada Bani Al-Muthallib, namun tidak memberikannya kepada kami. Padahal kedudukan kami dan mereka terhadapmu adalah sama”. Maka beliau menjawab : “Sesungguhnya Bani Al-Muthallib dan Bani Haasyim adalah satu (sama kedudukannya)” [HR. Al-Bukhari no. 3140].

Namun yang shahih, Bani Al-Muthallib bukan termasuk orang-orang yang diharamkan menerima zakat, karena hadits di atas hanyalah penyamaan dalam masalah khumus saja. Wallaahu a’lam.

3. Ahlul Bait adalah ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain; tanpa selain mereka.

Dalil yang mereka bawakan adalah hadits kisa’ :

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه وسلم قال نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وسلم {إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا} في بيت أم سلمة، فدعا النبي صلى الله عليه وسلم فاطمة وحسنا وحسينا فجللهم بكساء وعلي خلف ظهره فجلله بكساء ثم قال: اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا. قالت أم سلمة وأنا معهم يا رسول الله؟ قال أنت على مكانك وأنت الى خير”.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : “Ayat ini (“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” di rumah Ummu Salamah. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Al-Husain, lalu beliau menyelimuti mereka dengan kisa’ (baju), dan beliau pun menyelimuti ‘Ali yang berada di belakang punggungnya dengan kisa’ itu. Kemudian beliau bersabda : “Ya Allah, mereka semua adalah Ahlul-Bait-ku. Hilangkanlah dari mereka rijs dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”. Maka Ummu Salamah berkata : “Apakah aku bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Tetaplah kamu di tempatmu, dan kami di atas kebaikan” [HR. At-Tirmidzi no. 3205; shahih].

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan berkaitan hadits kisa’ di atas :

و أهل بيته في الأصل هم ” نساؤه صلى الله عليه وسلم و فيهن الصديقة عائشة رضي الله عنهن جميعا كما هو صريح قوله تعالى في (الأحزاب ) : *( إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا )*

بدليل الآية التي قبلها و التي بعدها : *( يا نساء النبي لستن كأحد من النساء إن اتقيتن فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض و قلن قولا معروفا . و قرن في بيوتكن و لا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى و أقمن الصلاة و آتين الزكاة و أطعن الله و رسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا . و اذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله و الحكمة إن الله كان لطيفا خبيرا )* , و تخصيص الشيعة ( أهل البيت ) في الآية بعلي و فاطمة و الحسن و الحسين رضي الله عنهم دون نسائه صلى الله عليه وسلم من تحريفهم لآيات الله تعالى انتصارا لأهوائهم كما هو مشروح في موضعه , و حديث الكساء و ما في معناه غاية ما فيه

توسيع دلالة الآية .

“Ahlul-Bait Nabi pada asalnya adalah istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk pula di dalamnya Ash-Shiddiqah ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhum jamii’an sebagaimana yang jelas dinashkan dalam firman Allah ta’ala : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Bukti bila Ahlul-Bait di sini adalah istri-istri Nabi adalah ayat sebelum dan sesudahnya : “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. Sedangkan anggapan Syi’ah (Rafidlah) bahwa Ahlul-Bait dalam ayat ini hanyalah ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhum, tanpa mengikutsertakan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu adalah bagian dari tahrif mereka terhadap ayat-ayat Allah yang mereka lakukan untuk menolong, membantu, serta membela hawa nafsu dan kebid’ahan mereka. Adapun hadits kisa’ dan yang semakna dengan itu, kemungkinan terbesar yang dimaksud adalah penunjukan perluasan ayat (yaitu ayat ini umum mencakup istri-istri Nabi, berikut ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain)” [Silsilah Ash-Shahiihah, 4/359-360 no. 1761].

Adapun yang paling kuat di antara ketiga pendapat tersebut mengenai makna Ahlul-Bait adalah orang-orang yang diharamkan menerima shadaqah/zakat, yang terdiri dari : istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya serta seluruh muslim dan muslimah keturunan Bani Haasyim (termasuk di dalamnya keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas). Ini adalah pendapat paling ‘adil yang mengambil semua hadits shahih yang berkaitan dengan Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun klaim Syi’ah Rafidlah bahwa Ahlul-Bait itu hanyalah khusus pada keluarga dan keturunan ‘Ali saja – itupun mengeluarkan keturunan Al-Hasan bin ‘Ali dan sebagian keturunan Al-Husain – tentu saja ini tidak benar. Mereka mengambil satu hadits yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dan namun membuang hadits-hadits yang lain yang bertentangan dengannya. Allaahul-Musta’aan.

dikutip dari :

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/ahlul-bait-nabi-shallallaahu-alaihi-wa.html

21. Eja - June 26, 2009

hei pak Sartono…

kenal Nabi Muhammad SAW?..

pernah ketemu dengan beliau?

Lalu kalo kita semua di sini tidak pernah bertemu Rasulullah SAW (semoga keberkahan Allah kepada beliau dan keluarganya) kenapa kita mengikuti beliau. Karena termaktub dalam Al-Qur’an lah yang kita yakini benar dan terjaga maka kita mengikuti teladan Rasulullah SAW..

Pak Sartono yang saya hormati, kami memang tidak kenal dengan Pak Jalal, tapi dari tulisan beliau maka kami bisa meyakini aliran mana yang beliau tempuh. Mungkin memang benar pak Jalal mengasihi anak kecil, baik kpd tetangga…tapi apakah sekedar baik bisa menunjukkan bahwa dia benar secara akidah?..belum tentu pak Sartono…coba bayangkan…adzan itu baik gak pak?…baik adzan itu..tapi coba lakukan adzan setelah sholat dzuhur di masjid…adzan yang tadinya baik menjadi salah karena pemilihan waktunya yang tidak benar…
sekian dari saya pak…

Untuk penganut golongan Syiah lainnya…sami’na wa atho’na itu penting dan dianjurkan…tapi bukankah ilmu Allah itu luas? dan kenapa sih masih ikut Syiah yang sudah jelas-jelas akidahnya terbantah secara mentah-mentah oleh Imam-imam Hadist kita seperti Imam Bukhari dan yang lainnya…Ayo dong..kita diberikan akal loh…

22. cinta damai - July 6, 2009

sekarang terbukti!!
yang membela warga gaza adalah orang2 nasrani..
hidup nasrani!!!

23. Sohib - July 7, 2009

Hai sodaraku…janganlah kau selalu berseteru…. mari kita bersatu dengan nama ALLAH SWT dan demi RASULULLAH SAW…dan demi ISLAM…

24. admin - July 8, 2009

untuk cinta damai,
jika Anda orang Islam, Anda tidak boleh memuji atau menyatakan keberpihakan kepada musuh2 Islam. Dikhawatirkan bisa terjerumus pada perbuatan kekufuran, yang membatalkan ke Islaman Anda..

25. forqan - August 17, 2009

apa yg disanpaikan kang Jall itu tepat dan jejas.kalu ada yg belum bisa menerimanya disebabkan keterbatasan ilmu dan fenatesme saja

26. pramono - August 23, 2009

Saya pernah 11 tahun di Bandung (1979-1990). Sering ikut pengajian dan ceramah Kang Jalal di UNPAD, dan lain-lain. Beliau sarjana komunikasi. Mahir berargumentasi. Penguasaan bahasa Arabnya juga bagus. Waktu masih kuliah saya begitu terkesima keahlian orasi beliau. Saya koleksi buku-buku Mizan (diantaranya DR.Ali Syaraiti). Tapi setelah saya pelajari tentang Syiah (berawal dari Abdullah bin Saba’), tentang taqiyah, kitab rujukan, dan lain-lain… saya mulai ragu..

Jangankan Syiah. Pengagum dan ideolog komunis, ideolog Trinitas, sebelum menyebarkan ismenya dibekali dengan keahlian sebagai orator, motivator, dilatih berargumentasi, berapologi, ketenangan dan kesabaran yang tinggi, dan tentu saja penampilan yang bagus.

Saya sangat senang kepada Kang Jalal secara pribadi, tetapi bukan pada Syiahnya.. Semoga beliau suatu saat kembali menjadi Khusnul Khotimah…

27. surya - August 26, 2009

SYIAH= SESAT DAN MENYESATKAN

28. hadi - August 29, 2009

Kalau syahadatnya sama, Nabinya sama, Kiblatnya sama, Puasanya sama dan yang membedakan adalah bukan hanya dicabang-cabangnya. Kenapa harus saling caci maki, intimidasi dan saling serang? dengan yang berbeda agama saja ajaran Islam (kedua mazhab tsb)tidak membenarkan kelakuan tsb, mengapa sesama umat islam berbuat demikian? saya yakin akhlak buruk di atas pastilah bukan ajaran kedua mazhab tsb.
Kapan Suni lahir? Kapan Syi’ah lahir? kalau jawaban keduanya adalah seumur islam itu sendiri, lalu kapan yang satu disesatkan oleh yang lain? kalau jawabannya adalah sejak kelahirannya? kalau begitu berarti kita telah menjadi bagian dari sisi buruk yang justru bukan ajaran kedua mazhab tsb.
Saya yakin pasti ada contoh sejarah, dimana para ulama dari kedua tokoh mazhab tersebut saling hormat-menghormati, duduk bersama dan berdiskusi bersama dengan baik-baik dan tidak saling sesat-menyesatkan satu sama lainnya. Lalu mengapa kita tidak memilih menjadi bagian dari sisi baik ini?
Saya pernah membaca riwayat hidup Imam Syafi’i, diceritakan bahwa beliau disiksa oleh penguasa saat itu hanya lantaran beliau mencintai Ahlul bait Nabi Saw, lalu beliau berkata: “Jika mencintai Ahlul bait Nabi Saw. itu Syi’ah, maka saksikanlah bahwa aku ini Syi’ah”
Pernyataan beliau demikian bukan menunjukan bahwa beliau penganut Syi’ah, tetapi yang dapat diteladani oleh kita bahwa beliau sedang menunjukkan akhlak islam yang terpuji.
Deklarasi Mekah 2006, ulama Suni dan Syi’ah sepakat: “Jika salah seorang di antara kamu memanggil saudaranya kafir, maka seorang di antara mereka akan menjadi kafir dan bertanggung jawab atasnya”
Tahun 2007 para ulama suni dan syi’ah berkumpul di Istana Bogor, mereka prihatin terhadap adanya intimidasi untuk memecah belah umat islam, mereka kembali mengingatkan mengenai Deklarasi Mekah.
Kalau mereka para ulama Islam berakhlak mulia, mengapa akhlak tersebut tidak menjadi bagian hidup kita?
Hendak berdiskusi, bertukar fikiran, beradu argumentasi,….siapa yang melarang? yang tidak boleh adalah adu claim bahwa pendapat sayalah yang paling benar yang lain sesat, mazhab sayalah yang lurus dan ‘nyunah’ mazhab anda benkok dan tidak ‘nyunah’, aliran sayalah yang diridloi Allah SWT. aliran anda nyeleweng, ujung-ujungnya sayalah yang muslim sedang anda kafir…

29. Arif Z - August 29, 2009

Mas Wandi (pemilik blog ini). Apakah Anda menggunakan web.ugm.ac.id ini memang resmi? Saya yang juga merasa memiliki UGM, merasa agak terusik dengan penggunaan webmailnya UGM untuk menyebarkan pendapat yang bisa saja masih harus dikaji dan sangat tendensius.

Mungkin sebaiknya kamu menggunakan address yang lain yang lebih netral.

Salamu ‘laikum.

30. abu danial - August 31, 2009

saya kagum akan ketinggian ilmu para ulama pada acara debat di makassar ini. Mudah-mudahan ada hikmah dibalik itu. Yang di bahas baru pada segi perbedaan penafsiran. belum pada persamaan penafsiran. Bila para ulama termasuk kang Jalal berdiskusi pada persamaan bukan pada perbedaan umat di kedua kelompok akan mempertajam persamaan itu, atau sebaliknya. Misalnya Peristiwa Ghaddir khum itu apa persamaan nya dari kedua kelompok itu?, atau pembantaian Karbala, apakah ada di kitab2 orang sunny ?.
Kang Jalal saya saran agar lebih memperkenalkan Ahlak para imam ahlul bait daripada syiah itu sendiri. Saya rasa selama ini belum terungkap ke publik tentang keutamaan ahkaq para imam itu. Bagaimana keberanian Imam Ali as, kejuhudan dan kecendekiaannya. Ketinggian ilmu Imam Hasan, Bagaimana Imam Ali Zainal abidin dalam ibadahnya dst.

Kepada yang mulia para ulama, mohon kiranya juga mempelajari ahlaq
para imam ahlul bait juga, paling tidak sebatas pengetahuan saja. an alangkah lebih baiknya disampaikan kepada ummat sebagai contoh tauladan bila “ada”.

31. genik puji yuhanda - September 3, 2009

ass…

32. genik puji yuhanda - September 3, 2009

Ass… Saya sbg org awam. Saya rasa syiah, sunni, dll, sepanjang mengakui Allah Swt sbg tuhan kita, dan mengakui Nabi Muhammad Saw rasul terakhir, juga Al-Qu’an sbg kitab kita, tidak dapat dikatakan sesat. adapun mereka2 (syiah, sunni, dan yang lainnya) yang berpendapat ya biarkan saja, krn mereka juga berpendapat menurut cara pandang dan pengetahuannya masing-masing. Anggap saja peristiwa kepemimpinan khalifah-khalifah terdahulu sebagai bumbu-bumbu kehidupan setelah Rasulullah SAW wafat. Jangan terlalu diambil hati, apalagi pakai emosi segala. jangan pula terlampau melihat ke belakang, nantinya malah akan mengorek luka lama, yang ujung2nya sakit hati lalu saling menyesatkan. Semuanya telah terjadi, yang penting kita umat Islam harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain, dan fokus ke depan agar bagaimana caranya umat Islam bisa bersatu. Toh, Nabi SAW yang mulia tidak pernah membalas keburukan dgn yg sama pula, malah dibls dgn kebaikan. Nabi SAW juga selalu menghargai dan menghormati siapa pun krn Akhlaknya yang sempurna, apalagi sampai balas dendam segala. Berdebat boleh saja, asal jgn sesat menyesatkan. Sepanjang kita beriman kpd Allah SWT dan Rasul-Nya, simpel saja, saya rasa tidak sesat. Yang sesat itu yang tidak beriman kepada Allah, tidak beriman kepada Malaikat-malaikat Nya, tidak beriman kepada Kitab-kitab Nya, tidak beriman kepada Rasul Nya, tidak beriman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat, tidak beriman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah. Itu saja dari saya yang awam, mohon maaf apabila ada kesalahan,,, sekian Wassalamualaikum wr.wb.

33. abu haafizh - September 10, 2009

sy heran dengan kawan2 yg demikian “mendewakan” kang jalal. kalo anda memang merasa sebagai muslim, maka setidaknya anda harus mengakui bahwa kang jalal tidak memiliki pilihan yang tegas tentang agama manakah yg paling benar dan selamat. sudah baca kan buku beliau, “islam dan pluralisme”? di buku itu jelas sekali tertulis bagaimana kang jalal menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an seenaknya, hanya untuk mendukung ide2 pluralisme agama. bagaimana mungkin semua agama dapat dikatakan benar? apakah anda ingin mengatakan bahwa Islam yg menganut tauhid murni dapat disetarakan kebenarannya dengan Kristen yg menuhankan Nabi Isa ‘alaihissalam??

bukankah Allah SWT telah amat tegas menyatakan dalam firman-Nya: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Almasih adalah Tuhan”??

34. joe - September 12, 2009

“Untuk teman-teman diatas:
Silakan kunjungi situs bagus tentang Syiah di http://www.hakekat.com

situs diatas memberikan beberapa argumen salah tentang syiah yang dibantah oleh situs dibawah
http://satriasyiah.wordpress.com/2009/02/28/kedustaan-hakekatcom-dalam-mengutip-hadis-syiah/

35. joe - September 12, 2009
36. joe - September 12, 2009

dalam dialog sunni-syiah kadang terjadi perbedaan yang sulit ditemukan ujungnya. salah satu sebabnya adalah karena masing2 mahzab menggunakan literatur yang diakui sepihak. menariknya ada beberapa dialog yang menggunakan literatur yang sama2 diakui sehingga lebih mengkerucut. nanti saya carikan linknya

oh ya untuk : ahmad dan pramono:
sungguh sayang jika anda mengenal seseorang yang baik lalu membencinya karena perbedaan mazhab. bukankah yang paling penting adalah prilaku?
anda bisa membaca http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1190442 bagaimana prilaku keseharian seorang presiden termiskin di dunia yang bermazhab syiah di negara yang merupakan penghasil minyak ke-3 terbesar di dunia. saya sendiri jangankan menjadi presiden, jadi walikota makassar saja saya tidak bisa menjamin saya dapat hidup sederhana sebagaimana beliau. gambaran keseharian ahmadinejad yang di iran menjadi orang nomor 1 tapi menjadi bawahan yang mencium tangan imam ali khamenei, merupakan cerminan paling kecil dari keseharian ulama2 mereka seperti ayatullah khomenei, ayatullah bahjad, dan ulam lainnya (semoga Allah SWT merahmati kesederhanaan mereka).

37. envi green - November 22, 2009

kog gak entek -entek rek debate, ayo rek dadi wong islam seng bener ojo kakean omong, tunjukin islam dihatimu secara baik,semoga kita semua diampuni dan dirahmati Alloh,amin.

38. ghiffari - December 4, 2009

salam..
saudaraku, jika kita semua mengakui bahwa Al Qur’an adalah al furqon, yaitu pembeda mana yang hak dan mana yang bathil, maka sudah bisa dipastikan bahwa tidak mungkin jika:

– ada 1 ayat yang isinya Allah swt memuji orang (dalam topic ini
adalah istri2 Nabi, lihat QS Al Azhab:33-menurut sebagian orang,
Ahlul bait itu adalah istri2 Nabi saw),

– tapi di ayat lain Allah swt melaknat mereka (lihat At Tahrim:1-5)

Percayalah saudaraku jika Al Qur’an itu bukan dari Allah swt,maka niscaya kalian akan mendapatkan Al Qur’an itu (isinya) saling bertentangan satu sama lain.

Maksudnya, tidak mungkin istri nabi adalah manusia suci sekaligus dilaknat oleh Allah swt.

Janganlah percaya dengan suatu hadis, jika bertentangan dengan Al Qur’an. Lebih tinggi mana Al Qur’an atau hadis?

Coba renungkan!!!
AWAS!!! KEFANATIKAN MEMBUAT MATA HATI ANDA TERTUTUP!!!

Wassalam

39. dini - December 12, 2009

assalamualaikum wr wb.

sudah kah anda membaca mengenai tragedi karbala? di mana cucunda Rasulullah SAW yang amat dicintai Allah dibantai, dipenggal kepalanya dan diarak keliling kota oleh Yazid bin MUAWIYAH bin Abu Sufyan. lantas apakah anda tidak membenci dan melaknat perbuatannya terhadap keluarga dari Rasul anda?

lebih percaya mana anda kepada keluarga Rasulullah SAW yang telah disucikan (al-ahzab : 33 / hadist kisa) atau kah sahabat nya yang diantaranya MENGKHIANATI nabi selepas ia meninggal?

tolong anda dalami dulu kajian mengenai apakah syiah itu sebenarnya? ada berapa golongan syiah itu? manakah syiah yang sesungguhnya?

40. muhannad - June 28, 2010

apakah pantas apabila ayat yang menggunakan fiil madi’ (suci dan di sucikan) berkenaan dengan istri2 nabi yang dahulunya adalah orang kafir dikategorikan dalam ayat tersebut…. apakah pantas kita memuliakan sahabat sedang nabi dihina apakah sebanding derajat seorang insan pilihan dengan insan bukan pilihan.. dan pantaskah mereka yang bukan pilihan disederajatkn dengan nabi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: